Selasa, 13 Maret 2018

Hukuman Tidak Sholat Subuh Berjamaah

Kang Pariman terkenal bandel. Dia suka melawan pengurus pondok dan sering mendebat para guru. Gaya bersarungnya abstrak, maksudnya, tak beraturan. Pernah suatu Jum’at pagi ketika dia mengikuti kegiatan bersih-bersih pondok putri, saat dia hendak mengangkat tempat sampah untuk menuangkan isinya ke dalam gerobak sampah, ikatan sarungnya lepas, lipatannya terurai. Satu-satunya lembar kain yang menutupi aurat bagian bawahnya itu mbrojol.

Kontan saja santri-santri putri yang kebetulan melihat pada berteriak. Ada yang berteriak histeris, ada yang berteriak kalem. Ada yang berteriak kaget. Ada yang berteriak girang. Ada yang tertawa, ada yang tersenyum. Ada yang terpana, ada yang langsung menutup mata.

Kang Pariman sendiri dengan setengah gugup setengah santai memperbaiki sarungnya. Kawan-kawannya santri putra pada ketawa. Di kemudian hari para pengurus pondok memendam curiga bahwa Kang Pariman menikmati insiden melorotnya sarung itu. Dasar Kang Pariman.

Kang Pariman juga jarang mandi. Dan tak teratur. Terkadang sehari mandi lima kali. Terkadang lima hari mandi sekali. Itulah mengapa dia sering dihindari. Peralatan mandinya pun hanya secuil sabun, sebotol pasta gigi, dan sebatang siwak.

Tentang penggunaan siwak, dia pernah membangga-banggakan diri.

“Kalian ini ngakunya santri, tapi gosok gigi pakai sikat gigi. Kanjeng Nabi itu gosok gigi pakai siwak! Kayak saya!” selorohnya suatu ketika. Tapi tidak ada kawan santrinya yang menghiraukan, karena mereka tahu ceritanya kenapa dia memakai siwak. Suatu ketika, sikat giginya jatuh kecemplung got yang ada di depan deretan kamar mandi. Dia misuh, tapi tak berdaya.

Seorang santri yang iba mendekati dan menyodorkan siwaknya. “Kang, saya ndak punya sikat gigi nganggur. Tapi ini ada siwak baru nganggur. Pakai saja,” katanya. Kang Pariman, dalam keadaan tanpa pilihan, menerima pemberian sang kawan.

Saat itu, gosok gigi memakai siwak tampak seperti pilihan tanpa harapan. Tapi:
“Gimana rasaya gosok gigi pakai siwak belaka?” Batin Kang Pariman.
“Siwak belaka?” Pikirnya.
“Kenapa pula musti siwak belaka?” Ide muncul.
“Kan pucuknya siwak bisa saya olesin pasta gigi!” Ide terbentuk.
“Rasanya jadi kayak gosok gigi pakai sikat gigi!” Ide menjadi kenyataan.
“Wah, ittiba’ kanjeng Nabi ini!” Ide menemukan pembenaran.
“Udah gitu, hemat pasta gigi pula! Ujung siwak yang musti diolesin pasta gigi kan lebih kecil daripada sikat gigi!” Ide mendapatkan nilai tambahnya.

Beberapa hari kemudian (beberapa hari Kang Pariman tidak mandi) mulailah ia, untuk pertamakali, menggosok gigi menggunakan siwak. Dengan bangga pula. Pret!

Kang Pariman juga tak pernah memakai handuk. Memikirkannya pun tidak. Usai mandi, dia akan keluar kamar mandi dengan rambut basah kuyup, baju belepotan, dan sarung amburadul. Tak lupa tangan kanannya menggenggam sebuah gelas plastik Aqua berisi peralatan mandinya.

***

Kiai Syarof, Santri senior yang menjadi lurah pondok, suatu pagi sedang membaca koran di aula tengah pondok selepas ngaji Tafsir Jalalain yang diampu langsung oleh pak Kiai, saat dari kejauhan tampak kang Paijo berkelebat hendak lewat dari aula depan pondok tempat ngaji menuju kamar yang ada di bagian belakang.

“MAN!” Seru Kiai Syarof. Yang diseru terhenyak dan menoleh. “Sini!”
“Modyar,” batin Kang Pariman. Ia dengan langkah gontai mendekat.
“Kenapa tadi kamu tidak ikut sholat Subuh berjamaah?” sidang Kiai Syarof di tempat. Mukanya sok galak.
Kang Pariman diam saja.
“Jawab!” Suara Kiai Syarof meninggi.
“Karena tadi saya Sholat Subuh sendirian, Kiai,” jawab Kang Pariman.
“Kenapa tadi kamu sholat Subuh sendirian?” Kiai Syarof mulai muntab.
“Karena tidak sholat Subuh berjamaah, Kiai,” jawab Kang Pariman.

***

Kiai Syarof mendelik. Suaranya kembali memekik. “Kamu tahu sholat Subuh berjamaah itu wajib?!”

Kang Pariman: “Yang saya tahu sholat Subuh berjamaah itu sunnah, Kiai. Yang wajib itu sholat Subuhnya.”

“Setaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!” Teriak Kiai Syarof. “Kamu tahu aturan pondok mewajibkan sholat berjamaah, kan?!”
“Iya, Kiai. Tahu,” jawab Kang Pariman. “Tahu banget,” imbuhnya iseng.
“Kamu saya ta’zir! Saya hukum!” putus Kiai Syarof.
“Saya pasrah, Kiai,” kata Kang Pariman sok polos.
“Hukuman kamu, besok kamu sholat jamaah Subuh dua kali!”

***

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search