Minggu, 07 Januari 2018

Kolong Sorga


Gus Beno, putra kiai pengasuh pesantren tempat kang Pariman belajar, yang mondok di Krapyak nyambi kuliah di fakultas Ushuluddin jurusan Akidah-Filsafat di sebuah Universitas di Jogja, sedang pulang liburan. Begitu sampai di Ndalem, gus Beno, untuk kesekiankalinya, ditanya sama abahnya,

“No, selama ini awakmu itu kuliah di jurusan apa?”
“Akidah, Bah,” jawab Gus Beno singkat sambil menundukkan kepala.
“Ndak filsafat, tho?” tanya abah Gus Beno lagi.
“Ndak, lah, Bah. Filsafat itu apa.”
“Ya, benar, No. Jangan ambil filsafat. Ndak usah belajar filsafat. Mbulet,” nasihat Abahnya Gus Beno.
“Njih, Bah. Iya,” lirih Gus Beno.
Terus menunduk. Entah takut, entah demi menyembunyikan senyum kecut.

Dan sebelum kembali ditanya-tanya lagi sama abahnya, Gus Beno nyelonong menyodorkan tanya,

“Bah, kang Pariman di mana?”
“Ya di pondok tho. Jam segini biasanya nungguin santri-santri sorogan.”
“Saya tak ke pondok, Bah. Kangen sama kang Pariman,” pamit Gus Beno bangkit dari duduk simpuhnya.

***

Benar saja, sesampainya di pondok, Gus Beno melihat kang Pariman sedang duduk-duduk dikelilingi santri-santri kecil yang sedang nyetor hafalan.

“Kang Pariman!” seru Gus Beno.
Yang disebut namanya menoleh, dan sumringah. “Gus!” serunya.

“Setorannya sudah dulu, ya, Kang. Ada Gus Beno,” kata kang Pariman kepada para santri. “Kalian terus belajar. Hafalannya jangan lupa. Jangan melanggar aturan pondok. Nanti masuk neraka kapok.” Dan para santri pun bubar dengan ceria, khususnya mereka yang belum kebagian setoran hafalan.

Ndak salam ndak salim, Gus Beno langsung berkata, “Kang, awakmu itu sukanya nakut-nakutin santri sama neraka!”
Hehe. Kang Pariman cuma mringis.
“Nanti kalau mereka takut beneran sama neraka bagaimana?” tanya Gus Beno.
“Ya bagus tho Gus,” kata Kang Pariman.
“Gundulmu bagus. Pesenin saya kopi sana!”
“Siap, Ndan!” jawab Kang Pariman sembari beranjak menuju “kedai Kopi Jahannam” milik koperasi pondok.

Selang beberapa menit kemudian, kang Pariman datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap.

“Tak bilangin, ya, Kang,” kata Gus Beno begitu Kang Pariman duduk dan menata cangkir kopi. “Gusti Allah itu Maha Welas. Ndak nyuruh orang untuk takut kepada-Nya. Apalagi takut sama neraka. Kanjeng Nabi itu ngajarkan cinta. Ndak menebar rasa takut. Lha kamu malah nakut-nakutin santri sama neraka.”
“Iya, iya, Guuuus. Ndak saya ulangi lagi,” kata Kang Pariman.
“Awas kalau kamu ulangi,” ancam Gus Beno, “Masuk neraka kapok!”

Klak klak klak. Mereka berdua ketawa.

“Tapi beneran, Kang,” kata Gus Beno usai gelak. “Saya pernah dibilangin sama (alm.) Gus Zaky, putranya Kiai Zawawi Imron, bahwa Gusti Allah itu saking welas-Nya, sebenarnya cuma menciptakan Sorga, ndak neraka.”
Kang Pariman mengerutkan jidat. “Lantas yang nyiptain neraka siapa, Gus?”
“Awakmu tahu tukang kayu?”
Kang Pariman manggut.
“Tukang kayu itu cuma bikin meja. Ndak bikin kolong meja. Kolong meja ada dengan sendirinya begitu meja tercipta. Demikian juga dengan Sorga. Gusti Allah cuma menciptakan Sorga. Neraka ada sebagai konsekuensi adanya Sorga.”
Kang Pariman manggut-manggut.
“Mudeng, Kang?” tanya Gus Beno.
“Ndak!”
“Sama!”

Mereka berdua kembali tertawa. Lalu pada nyruput kopi.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search