Rabu, 11 Oktober 2017

Kiai Mansur dan Vespa Ajaibnya

Dulu, pada era 90-an, di kota kecil kami banyak berkeliaran Vespa dengan para penunggang bersarung dan berbaju takwa. Ada almarhum Kiai Masykuri, Vespa Excel, ada kiai Munib, Vespa Excel juga, ada kiai Faqih, Vespa Sprint, ada almarhum kiai Amroni, Vespa Excel.

Dan almarhum kiai Mansur. Vespa yang beliau tunggangi: Vespa Super.

Kiai Mansur adalah kiai yang memiliki banyak karomah. Perbawanya penuh wibawa. Posturnya tinggi besar, hidungnya mancung, wajahnya berseri, dan sering berkelebat di jalanan kota. Dengan sarung putih, peci putih dan Vespanya. Kiai Mansur adalah penganut thoriqoh Naqsabandiyyah yang sosok kehadirannya menimbulkan banyak aura mistifikasi.

Pernah suatu saat ada operasi pelanggaran lalu lintas. Ndilalah kiai Mansur melintas. Polisinya yang pura-pura enggak lihat.

Pada era 90-an, kisah yang berkembang di kalangan santri-santri kecil tentang kiai Mansur adalah bahwa beliau tidak pernah ngisi bensin Vespanya.

"Kamu pernah lihat kiai Mansur ngisi bensin?" tanya kang Pariman kepada kawan-kawannya. Semua menggeleng.

Konon, Vespa kiai Mansur juga tidak pernah mogok. "Kamu pernah lihat kiai Mansur mbengkel?" tanya kang Pariman lagi. Gelengan-gelengan kepala lagi.

Jika kiai Mansur berkunjung ke pondok pesantren Leteh, para santri kecil akan memerhatikan dari jauh. Saat beliau pulang, para santri kecil itu akan menyaksikan bagaimana kiai Mansur, sebelum menaiki, akan memiringkan Vespanya ke sebelah kanan tiga-empat detik, lalu menyela kick starternya.

Penjelasan ilmiahnya, hal itu dilakukan supaya aliran bensin cepat turun menuju karburator, sehingga sekali sela mesin Vespa menyala.

Penjelasan mistisnya, Kiai Mansur melakukan hal itu untuk membangunkan jin yang menghuni mesin Vespanya.

"Saya pernah menyaksikan kiai Mansur menepuk-nepuk tepong Vespanya sambil berbisik, 'Hei, bangun, bangun'," cerita kang Pariman pada para santri kecil.

Hal-hal mistis memang tidak untuk dibuktikan. Tapi ada satu hal yang pasti tentang Vespa kiai Mansur: nggak ada remnya.

Saat itu ada hajatan. Paklik Manaf diutus kiai Mansur beli sesuatu untuk keperluan hajatan itu.

"Cepetan beli, hajatannya sudah mau dimulai. Pakai Vespaku!" arah kiai Mansur.

Paklik Manaf berangkat naik Vespa. Pulang-pulang, sambil menggerutu, ia protes kepada kiai Mansur, "Vespa macam apa ini?! Remnya nggak ada! Bagaimana mau berhenti?!"

Kiai Mansur ketawa, "Tabrakin tembok kan berhenti!"

*

1 komentar:

  1. Ha ha ha ha apik2 kebayang karo karo pemerannya... sering kerungu tapi iki lbh nyingir gus..

    BalasHapus

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search