Minggu, 29 Oktober 2017

Api Kompor

Kang Pariman selepas mondok meneruskan belajarnya di universitas di lain kota. Suatu ketika ia bertemu di jalan dengan guru ngajinya semasa ia masih mondok. 

"Pariman!" sapa guru ngajinya sumringah. 

Kang Pariman menoleh dan melihat sesosok wajah yang sudah lama tak ia jumpa. "Ustad Latif!" balas kang Pariman. 

"Masya Allah, ustad Latiiif!" tambah kang Pariman sambil berjalan tergopoh ke arah guru ngajinya itu. 

Mereka berdua berpelukan layaknya dua orang normal yang kangen-kangenan. Setelah berpelukan, mereka berdua lantas bersalaman, dengan Kang Pariman menundukkan badan dan mencium punggung tangan Latif. 

"Masya Allah, bagaimana kabarnya, Kang?" tanya Latif.

"Alhamdulillah, baik, Ustad," jawab kang Pariman. 

"Kamu tidak berubah, Kang. Meski sekarang pakai celana, gak lagi sarung, tetap saja kamu pakai kopiah," komentar Latif sambil mengamati penampilan santrinya itu. 

"Iya, Ustad. Tidak berubah. Masih seperti dulu. Ngganteng," kata kang Pariman cengengesan. Lalu berkomentar, "Njenengan makin keren, Ustad. Jidatnya sekarang ada hitam-hitamnya, celananya cingkrang, jenggotnya panjang."

"Alhamdulillah, ini berkat hidayah Allah," kata Latif. 

Mereka berdua berbincang terus menukar sapa dan melepas rindu. Lalu Latif mengajak kang Pariman untuk mampir ke rumah kontrakannya. Ajakan yang tidak bisa ditolak kang Pariman. 

Sesampai di rumah kontrakan Latif, ia langsung masuk dapur dan berkata, "Mau minum apa, Kang Pariman? Kopi? Susu? Soklat? Es campur? Cendol? Wedang jahe?" 

"Kopi saja, Ustad." 

"Wah, habis." 

"Susu, Ustad." 

"Wah, habis."

"Soklat saja kalau begitu."

"Wah, habis."

"Ya sudah, ndak usah repot-repot, Ustad." 

"Tinggal teh."

"Ya sudah, teh, Ustad." 

"Ya sudah, teh gak papa, ya."

"Iya, Ustad." 

Lalu, "Kang Pariman, sini. Ke dapur. Tolong bantu saya," kata Latif. Kang Pariman yang ada di ruang tamu masuk ke dapur. 

"Tolong nyalakan kompor untuk memasak air." 

"Njih, Ustad!" Bagi Kang Pariman, seorang santri pantang menolak permintaan gurunya. 

Api kompor baru saja menyala, saat tiba-tiba tangan kanan kang Pariman dipegang erat-erat oleh Latif. Lalu secepat kilat tangan kanan Kang Pariman ditarik dan diarahkan tepat ke atas api kompor yang menyala-nyala. 

Kontan saja Kang Pariman kaget dan menjerit kepanasan.

"Kenapa?" tanya Latif santai. "Kepanasan?" terusnya. 

"Iya, panaaas, Ustaaaaaad," jawab Kang Pariman dengan nada protes sambil terus mengibas-kibaskan tangan kanannya.

Belum genap rasa kaget Kang Pariman, Latif kembali membuatnya terpana saat kemudian ia berkata, "Kang Pariman, yang kamu rasakan itu baru api kompor. Kamu sudah kepanasan begitu. Bagaimana dengan api neraka?" 


Sejak saat itu, Kang Pariman takut pada api kompor.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search