Sabtu, 21 Oktober 2017

Hukum Corat-coret Pinggiran Kitab


Catatan pelajaran dalam buku sekolah kita sudah pasti akan kehilangan makna substansialnya sepuluh tahun kemudian. Berbeda dengan coretan pinggir yang menghiasi lembar buku catatan tersebut.

Cobalah bongkar tumpukan buku-buku catatan pelajaran SMA Anda. Anda pasti akan terkejut. Catatan pelajaran, yang Anda tulis puluhan tahun silam, tidak akan menarik perhatian Anda. Tapi, dengan sedikit keberuntungan, Anda akan menemukan coretan-coretan tangan Anda di pinggirnya.

Besar kemungkinan Anda akan tersenyum-senyum sendiri. Tidak peduli apapun coretan tangan Anda itu, tak peduli apapun ingatan yang dibangkitkannya, Anda akan tersenyum-senyum sendiri. Mungkin akan dibarengi dengan hela napas. Barangkali akan diiringi dengan lamunan. Atau, pengandaian-pengandaian. Mungkin ada coretan nama mantan di sana.

Atau, cobalah buka kembali kitab-kitab peninggalan jaman kita mondok dulu, yang lama tak kita jamah itu. Barangkali kita akan menemukan coretan-coretan doa ijazah yang disampaikan kiai saat membacakan dan mengkaji kitab. Atau rajah. Atau, mungkin kita akan menemukan gambar kartun idola kita, gambar sandal jepit, atau gambar bulatan berpalang tiga simbol kedamaian.

Sejak kita sekolah dan mondok, hingga sekarang ini, apa sebenarnya yang terjadi kepada kita? Liku jalan mana saja yang telah kita lalui? Simpang jalan mana saja yang telah kita pilih? Tikungan mana saja yang sempat membuat kita terpeleset? Turunan mana yang pernah membuat kita terpelanting? Tanjakan mana saja yang nekat kita tempuh?

Halah!

Kita bahas hukumnya saja! Apa hukum mencoret-coret pinggiran buku atau kitab? (sebenarnya buku dan kitab ya sama saja)

Dalam hazanah literatur fikih, ada dua jenis dalil atau sumber hukum dalam Islam: Naqli dan 'aqli. Teks dan akal. Sumber hukum teks meliputi al-Qur'an dan Hadist.

Jika sebuah fenomena sosial, yang terus berkembang seiring perkembangan jaman, tidak tercakup penjelasan hukumnya oleh kedua sumber hukum teks tersebut, maka akal musti bekerja menganalisa, menganalogi, mengkias, mempertimbangkan berbagai variabel, memilah alasan hukum dan kondisi yang melingkupi, mencari persamaan kasusnya dengan yang dijelaskan teks suci, mengkaji asbab nuzul dan asbab wurud, menyarikan kaedah hukum, menimbang kemaslahatan dan kemelaratan, lalu mengambil kesimpulan hukum atas fenomena sosial tersebut.

Hukum mencoret-coret pinggiran buku atau kitab tidak dijelaskan dalam al-Qur'an maupun Hadist. Maka harus kita upayakan penelusuran hukumnya melalui dalil 'aqli.

Kita tahu hukum dalam fikih Islam ada lima: wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Wajib, dilakukan dapat pahala, ditinggalkan dapat dosa. Sunnah, dilakukan dapat pahala, ditinggalkan tidak apa. Haram, dilakukan dapat dosa, ditinggalkan dapat pahala. Makruh, ditinggalkan dapat pahala, dilakukan tidak mengapa. Mubah, dilakukan-tidak dilakukan tidak apa-apa.

Jadi, coret-coret pinggir kitab itu hukumnya apa? Wajib, sunnah, haram, makruh, apa mubah? Kodifikasi hukum Islam memiliki sejarahnya sendiri. Dan literatur ushul fikih mengajarkan kepada kita bahwa hukum Islam tidak statis.

Jadi? Hukumnya bagaimana? Sebentar. Sumber hukum Islam tidak pernah menerangkan hal ini. Dan belum ada bahsul masail yang membahasnya.

Lalu?

Ya belum ketemu hukumnya.

Lhah!

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search