Jumat, 22 September 2017

Tips Menggasab Sandal Jepit

Tips Menggasab Sandal Jepit
Adakah di dunia ini santri yang tak pernah digasab sandal jepitnya? Ya ada, lah. Masak enggak ada? Tapi, besar kemungkinan, pada satu atau lain waktu, kita pernah menjadi korban gasab sandal jepit. Betul? Nah, sekarang pertanyaan selanjutnya: pernahkah Anda menggasap sandal jepit? Jujuuuur. Pacar orang aja kadang kamu gasap. Apalagi sandal jepit.

Terminologi gasab, ghosob, sangatlah akrab di telinga para santri. Hampir setiap hari, sepertinya, peristiwa gasab sandal jepit terjadi. Padahal, nggasab itu dosa kecil. Atau, justru karena dosanya yang cuma kecil itu gasab sedemikian akrab?

Dalam hazanah hukum fikih, gasab memiliki definisi yang ngeri: Ghasab menurut bahasa adalah mengambil secara paksa dan lalim. Adapun secara istilah adalah menguasai harta orang lain dengan sewenang-wenang dan dengan alasan tidak benar.

Namun kalangan santri memiliki definisi sendiri, yang lebih membumi. Gasab, pada dasarnya, adalah peristiwa di mana seseorang mengambil hak milik orang lain untuk dia gunakan dalam suatu jangka waktu tertentu, dengan sejak awal berniat mengembalikan hak milik tersebut pada tempatnya apabila sudah selesai dia gunakan. Jangka waktu tertentu pemakaian objek gasab ini variatif.

Bisa cuma beberapa menit. Misalnya seorang santri, dari kamarnya, hendak pipis ke kamar mandi. Dia secara alami akan memakai sandal jepit punya siapa saja yang kebetulan parkir di depan kamar. Tidak ada hasrat untuk menguasai sandal jepit tersebut. Selesai dia pakai ke kamar mandi, ya langsung dia kembalikan ke tempat asal.

Bisa juga beberapa minggu. Atau bulan. Misalnya: si santri yang tadi kebelet pipis ke kamar mandi, lalu sekalian wudu dan langsung menuju masjid untuk salat jamaah. Waktu kembali ke kamar, si pemilik sandal jepit yang ternyata penghuni komplek kamar lain, sudah pulang ke kamarnya sendiri, dengan memakai sandal jepit hasil gasapan pula. Nah, sandal gasapan yang sudah kembali ke tempatnya itu kemudian mengalami penggasapan lagi oleh santri yang lain, lalu mengalaminya lagi, dan lagi. Hingga santri satu kamar kehilangan jejak kepemilikan sandal jepit tersebut. Hingga suatu saat si pemilik sandal jepit kembali dolan ke kamar tersebut dan tak sengaja menemukan kembali sandal jepitnya yang sudah lama menghilang kena gasap orang.

Dalam hazanah ilmu fikih, hukum gasab adalah haram. Paling ringan adalah makruh banget. Siapa yang melakukannya, kena dosa. Kecil. Sedangkan dalam hazanah keseharian hidup santri, hukum gasab adalah makruh yakadu lumrahan. Artinya, tidak disukai, tapi dimaklumi. Khususnya gasab sandal jepit. Keberbedaan hukum gasab dalam kedua hazanah keislaman ini berkait erat dengan Keberbedaan definisi gasab dalam keduanya.

Kedua cara pandang ini apa ndak bertentangan? Ndak. Keduanya memilik pegangan dalil naqli masing-masing. Yang pertama mengambil dalil 'IttaqulLaha haqqo tuqotiH'. Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa. Yang kedua berpegang teguh pada dalil 'IttaqulLaha mastatho'tum. Bertakwalah semampu kalian.

Tapi, kata kang Pariman, orang harus konsisten dalam pengambilan definisi dan hukum dari sesuatu. "Maksud saya," kata Kang Pariman, "Orang boleh milih definisi dan hukum gasab menurut ilmu fikih atau menurut adat keseharian. Tapi musti konsisten. Kalok seseorang tidak mau digasap sandal jepitnya, ya jangan sekali-kali gasab sandal jepit orang lain. Kalok kadang kamu suka makek sandal jepit temenmu, ya kalok suatu saat sandal jepitmu digasab orang ya ndak usah teriak-teriak takbir."

Nah, bagi mereka yang kadang 'terpaksa' gasab sandal jepit orang, kang Pariman punya beberapa tips untuk tidak usah diikuti.

Tips pertama, tata niat. Sebelum menggasab sandal jepit, berniatlah untuk mengembalikannya. Jangan sampai ada terkelebat niat jahat untuk menjual atau menggadaikannya. Sadarlah bahwa apa yang hendak kamu lakukan itu meski dimaklumi tapi sebenarnya tidak disukai. Ada baiknya selama menggasab kamu terus beristighfar.

Kedua, baca basmalah. Paling tidak, kamu akan dapat pahala baca basmalah. Kan lumayan. Kata Rasul, jika kamu melakukan hal yang keliru, segerakanlah untuk menutupinya dengan perbuatan baik. Baca basmalah kan baik.

Ketiga, jaga baik-baik sandal jepit gasabanmu sebagaimana kamu menjaga hati pacarmu, atau lebih. Jangan sampai rusak, apalagi hilang. Karena, jika rusak atau hilang, pihak tergasab berhak mengajukan tuntutan ganti rugi sebesar nilai sandal jepit yang kamu gasab. Jika dalam eyel-eyelan kamu terbukti merusak sandal jepit gasaban, kamu akan malu dan terpaksa ngutang untuk ngganti sandal jepit tersebut.

Keempat, sebisa mungkin, kenalilah pemilik sandal jepit yang hendak kamu gasab. Pertimbangkan sifat-sifatnya. Bayangkan reaksinya jika kamu ketahuan. Kalau kamu perkirakan reaksinya cuma nyengir saat tahu sandal jepitnya kamu gasab, ya gasab saja. Tapi kalau besar kemungkinan pemilik sandal jepit tersebut jika tahu sandalnya digasab akan teriak-teriak takbir, ya cari sandal jepit yang lain saja. Dan jika kamu tidak tahu pemilik sandal jepit yang hendak kamu gasab, ya terserah kamu. Berani ambil risiko apa enggak. Berdoa saja semoga sandal jepit tersebut bukan milik ketua keamanan pondok atau milik pak kiai. Atau milik emak-emak. Karena, ah, sudahlah.

Kelima, segera kembalikan ke tempatnya. Jangan tunda-tunda. Apalagi sampai lupa. Periksa sandal jepitnya. Apakah masih utuh sepasang atau tinggal kiri atau kanan saja.

Keenam, disunnahkan setelah selesai menggasab sandal jepit untuk segera menemui pemiliknya. Senyumin aja. Shodaqoh. Lumayan, pahala. Bisa menutupi dosa kecil nggasabmu.

Peringatan: ini cuma untuk kasus gasab sandal jepit. Bukan gasab pacar.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search