Selasa, 19 September 2017

Pentil


Dalam penggunaan sehari-harinya, kata pentil memiliki paling tidak tiga makna haqiqi dan satu makna majazi. Makna haqiqi pertama dari pentil adalah buah yang masih kecil. Mangga, misalnya, jika ia masih kecil bergelantung di ranting pohonnya, namanya pentil mangga. Jambu, sedemikian juga, jika masih kecil disebut pentil jambu.

Makna haqiqi kedua dari pentil adalah ya pentil. Ya pentil yang itu. Yang ada di ujung susu itu. Adalah sebuah kenyataan sederhana sekaligus mendasar bahwa setiap dari kita pernah mentil. Dulu maupun kini. Adalah sebuah karunia bila kita, dulu maupun kini, mentil pentil yang asli. Lihat bayi-bayi itu, betapa damainya mereka bila sedang mentil induk mereka. Sehisteris apapun seorang bayi menangis, akan langsung diam dan tenang bila dikasih pentil. Ah, jadi teringat Sigmund Freud. Ndak usah diterusin. Mundak kemana-mana.

Makna haqiqi ketiga dari pentil, dengan pengucapan huruf 'e' yang agak beda, adalah sebuah silinder karet kecil yang dipasang di lubang angin ban sepeda. Atau becak. Ia memiliki sifat lentur. Bisa mengembang dilalui angin, menutup ditekan angin dari arah lain.

Dan pada makna haqiqi ketiga inilah, makna majazi pentil dinisbatkan. Di banyak kalangan masyarakat, salah satunya masyarakat santri, pentil adalah istilah yang digunakan untuk melaqobi orang yang kikir. Sifat pentil yang bisa dimasukin angin tapi tidak bisa ngeluarin angin menjadi 'illah penisbatan sebutan pentil bagi mereka yang kikir. Dikasih mau, tapi dimintai sesuatu kagak mau.

Dan dalam kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat santri, tidak ada sifat paling terkutuk melebihi kikir. Bahkan lebih terkutuk dari sikap kurangajar kepada pengurus keamanan pondok.

Masyarakat santri sejak dari pondok diajarkan untuk hidup sama rata sama rasa bersama-sama. Tidak ada miskin dan kaya. Meski kamu punya uang sepuluh ribu, tapi pengen ngopi pukul satu malam dan warung koperasi pondok sudah tutup dan bubuk kopi simpananmu sudah kandas, mau bagaimana? Nekat keluar pondok? Bagian kemanan berkeliaran! Meski kamu tidak punya uang dan warung koperasi pondok buka, kamu masih bisa ngutang. Modal tampang melas dikit, lah.

Kikir adalah musuh bersama. Bangunan masyarakat santri berdiri di atas pilar-pilar yang salah satunya adalah pilar kebersamaan dan sikap saling berbagi. Islam sangat menentang kekikiran dan menganjurkan sedekah. Bahkan mewajibkan zakat.

Sabda Nabi, seseorang tidak dikatakan beriman sampai dia senang melihat kawannya senang atas sesuatu yang apabila sesuatu itu dia dapatkan, dia senang. Dan, apa yang lebih menyenangkan hati melebihi pemberian dari seorang kawan?.

Jadi, pentil ada yang harus kita tunggu sampai matang, ada yang harus kita tunggu sampai akad nikah, dan ada yang harus kita jauhi.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search