Sabtu, 16 September 2017

Nasib Pembenci

Tidak ada nasib lebih sial di dunia ini daripada jadi seorang pembenci. Ia bahkan lebih sial daripada seorang jomblo. Seorang jomblo dalam sendiri kadang masih bisa berdamai dengan dunia. Tapi seorang pembenci, dalam sepinya, ia tetap membara.

Pembenci memang ada beberapa jenis. Tapi semuanya membuang energi secara percuma. Ada orang benci karena disakiti secara personal. Ada juga orang benci karena, entah apa. Kenal kagak. Pernah ketemu kagak. Pernah diserobot haknya kagak. Pernah disapa aja kagak. Pernah dipikirin juga kagak. Tapi benci. Benciiiii.

Kalau ada orang bilang, 'Ana benci karena Allah,' suruh masuk  sorga duluan aja. Percuma ngomongin orang benci. Wong memang benci. Lebih percuma lagi ngajak debat pembenci. Lo bakal gagal benci.

Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk membenci. Apalagi membenci karena Allah. Kalau marah karena Allah, memang harus. Dan marah karena Allah adalah sebentuk rasa kasih. Islam agama cinta kasih. Islam mengajarkan pemeluknya untuk saling cinta penuh kasih. Tidak benci.

Marah karena Allah memunculkan sikap kritis. Rasa benci melahirkan sarkasme dan sikap sinis nan nyinyir. Kalau ada orang salah, tegurlah. Kalau keliru, ingatkanlah. Kalau salah kaprah, kritiklah. Teguran, mengingatkan, kritikan, muncul dari sikap empati, yang tidak pernah mampu dimiliki para pembenci.

Pembenci akan sangat senang bila yang ia benci melakukan kesalahan. Jika kesalahan tak kunjung datang, ia akan mencari-cari. Dan jika sudah dicari-cari tapi tidak ketemu, yah, apapun yang dilakukan oleh yang dibenci ya bisa dianggap keliru. Hal ini ia lakukan untuk membenarkan diri mengapa ia membenci.

Jika suatu ketika kita merasa sakit hati dan kemudian benci, ingatlah kisah Iblis yang menolak perintah Allah. Besar kepala karena merasa lebih tinggi derajat hanyalah penyebab Iblis untuk tidak tunduk. Dan ketika kemudian Iblis dilaknat, sifat dominan Iblis terhadap umat manusia bukanlah lagi kesombongan, melainkan sakit hati dan rasa benci. Pesan moral yang kadang luput dari perhatian kita dari kisah seteru Iblis dan nabi Adam adalah ini: rasa benci potensial abadi. Dan oleh Allah sudah dikasih janji: siksa abadi.

Jika kelak ia masuk sorga, pun ia akan masuk sorganya para pembenci. Duh, nasib pembenci. Di dunia dibakar amarah sendiri. Di akhirat dimakan lahap api.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search