Selasa, 05 September 2017

Menyegarkan Kembali Pemahaman Slanker

Menyegarkan Kembali Pemahaman Slanker
Saya meletakkan Slanker pertama-tama sebagai sebuah organisme yang hidup, sekumpulan fans berat grup musik Slank yang berkembang sesuai dengan denyut nadi kehidupan.

Saya melihat kecenderungan sikap oleng Slanker amat menonjol saat ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi kecenderungan ini.

Akal budi saya sulit menerima kenyataan nisbi melihat gerombolan anak-anak muda berkostum atau mengenakan aksesori Slank keleleran di pinggir-pinggir jalan saat ada suatu keramaian sedang diselenggarakan. Mereka ini menyatakan diri sebagai manusia bebas. Anak-anak jaman. Merasa mengadopsi cara pandang Slank, tapi saat ditanya siapa personil Slank sebelum Abdee, Ivan dan Ridho, melongo.

Mereka pada umumnya juga bukan penikmat musik yang baik. Lagu apa saja mereka lahap. Yang penting bisa kumpul. Bisa goyang. Bisa minum jamu. Mereka bahkan lebih akrab dengan dangdut koplo paling koplo daripada lagu-lagu utama Slank.

Saya sadar mereka bukanlah generasi sembilan puluhan yang sangat beruntung disuguhi jenis-jenis musik dalam negeri yang sangat bergizi, dengan nada-nada yang indah, permainan musik yang apik dan lirik-lirik yang menarik.

Saya kasihan pada mereka, Slanker muda yang sebenarnya mencoba hendak keluar dari arus mainstream musik jalanan akan tetapi terjebak pada kostum dan baju belaka.

Atas keadaan yang mengepung ke-berada-an mereka, kekeliruan tidak sepenuhnya mesti ditimpakan kepada mereka. Kita, Slanker rada tua yang masih kebagian nikmatnya era sembilan puluhan, haruslah ikut menanggung ketersesatan mereka, dan sudah saatnya untuk melakukan sesuatu demi menyegarkan kembali pemahaman Slanker atas jalan hidup musik mereka.

Salah Slank juga, sih, kenapa musik-musik mereka makin ke sini makin kagak asyik kayak dulu lagi.

Hanya ada satu-dua judul single mereka yang dikeluarkan setelah album Satu-Satu yang bagus. Misalnya Seperti Para Koruptor, Ku Tak Bisa, dan Bendera Setengah Tiang. Yang lainnya menurut saya sudah kagak kayak lagunya Slank.

Bandingkan dengan musik Slank jaman dulu. Jauh. Saya bisa menyebutkan banyak judul lagu lawas mereka yang begitu menghanyutkan jiwa dan raga. Sebut saya Lorong Hitam dan Anyer 10 Maret. Putar dan dengarkan kedua lagu itu malam-malam dalam kamar sendirian. Bisa nangis lu.

Atau, simak lirik-lirik dalam lagu, misalnya, Gemerlap Kehidupan Kota, Pintu, Aktor Intelektual. Tajam! Dan, siapa yang hendak mengingkari betapa indahnya melodi dalam single Aku Ingin Damai?

Mari kita rangkul Slanker-Slanker muda masa kini untuk kembali menghayati dan mendengarkan lagi lagu-lagu Slank pada era keemasannya.

Wassalam.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search