Minggu, 03 September 2017

Menakar Emak-emak

Menakar Emak-emak
source: brilio.net
Telinga, mata, dan kesadaran kita telah mengenal dan akrab dengan fenomena the power of emak-emak. Jalanan akan lebih menggetarkan jiwa saat kita berpapasan atau jalan beriringan dengan emak-emak, dengan atau tanpa memboncengkan anak-anak. Mereka punya self-righteousness yang patut diaperesiasi dengan gelengan kepala dan decak cicak ck ck ck. Maha benar emak-emak dengan segala tingkahnya.

Mulai dari relativitas gaya belok dan perilaku lampu sein yang tidak bisa diprediksi hingga aksi gagah perkasa menaklukkan otoritarianisme dan dogma keseraman bapak-bapak polisi. Belum lagi gaya sebagian emak-emak dalam berakselerasi. Ngeri-ngeri sedap.

Tulisan ini adalah hasil observasi lapangan dan permenungan selama berbulan-bulan terhadap objek penelitian: Emak-emak. Agar lebih fokus dalam menjalankan observasi dan kemudian menuangkan hasilnya dalam sebuah laporan, dan memberikan gambaran ruang lingkup yang jelas, maka objek penelitian saya batasi: Emak-emak muda.

Tak bisa dipungkiri, emak-emak memiliki posisi dan peran penting dalam keberlangsungan hidup spesies manusia. Juga agar kehidupan berjalan wajar dan tetap menarik. Adagium masyhur menyatakan bahwa maju-mundurnya suatu bangsa bergantung pada emak-emaknya.

Islam juga menempatkan emak-emak pada posisi yang sangat terhormat. Suatu saat seorang sahabat Rasul bertanya kepada beliau kepada siapakah ia harus hormat. Emakmu, jawab Rasul. Lalu siapa? Emakmu. Lalu siapa? Emakmu. Lalu siapa? Baru bapakmu. Tiga kali lipat dari hak bapak. Emak, emak. Luhur nian derajatmu. Rasul juga pernah bersabda bahwa sorga letaknya di bawah telapak kaki emak. Kurang mulia gimana lagi?

Tapi, posisi sepenting dan semulia itu tentu meniscayakan adanya syarat dan ketentuan yang berlaku. Masak enggak? Enak aja. Lalu apa aja syaratnya? Nggak tahu. Bukan kapasitas saya. Masing-masing kita punya idea tentang sosok emak-emak calon penghuni sorga.

Mari kita sejenak merenungkan dan membayangkan profil emak-emak calon penghuni sorga menurut kepercayaan dan imajinasi kita masing-masing. Lalu coba sandingkan dengan contoh-contoh profil emak-emak muda masa kini hasil observasi lapangan dan permenungan selama berbulan-bulan saya ini:

Emak-emak muda saya bahas dari sudut pandang hubungannya dengan (1) diri sendiri, (2) dengan anaknya, dan (3) dengan kawan(an)nya.

Di antara mereka, ada yang dengan gagah perkasa benar-benar mencoba mengalahkan dirinya sendiri demi keluarga. Mereka tak minta jatah bedak. Tapi bawel urusan anak. Susu formula anak habis, panik. Anak panas sedikit, histeris. Si ayah pulang telat semenit, telpon polisi. Mereka, tentu saja, tetap punya akun media sosial. Tapi update tak berkala. Sekali nyetatus, ala kadarnya saja. Mereka bermedia sosial untuk keep in touch dengan kawan-kawan lama. Aktualisasi diri mereka selenggarakan dalam dunia nyata.

Ada juga yang sebaliknya. Mereka masih belum rela melepas ego dan narsisme masa muda demi bangunan bersama bernama keluarga.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search