Senin, 11 September 2017

Fashlul Maqol fi Ma Baina Slank wa NU minal Ittishol


Pada tahun 1100-an, di Spanyol, seorang Kadi mencoba menepis anggapan bahwa filsafat dan teologi Islam saling meniadakan. Ia mengajukan pandangan bahwa kedua cara pandang dalam mencari kebenaran tersebut bisa berjalan beriringan. Dan jika filsafat dan teologi Islam bisa bergandengan tangan, maka sudah pasti Slank dan NU bisa berangkulan.

Jika NU punya jutaan warga, Slank pun memiliki basis fan berat yang banyak pula. Dan sebagaimana warga NU kebanyakan merupakan masyarakat di akar rumput, Slanker pun memiliki basis di banyak pinggiran kota. Secara statistik, di lapangan, warga NU dalam keseharian berkemungkinan besar sering bersinggungan, bertemu, berhubungan dengan Slanker. Dan nyatanya tidak sedikit warga NU yang merupakan Slanker, sebagaimana banyak pula Slanker yang hobinya juga tahlilan.

Dan persinggungan ini tidak menimbulkan gejolak sosial yang berarti. Gesekan potensial paling-paling terjadi saat ada konser Slank pada jam masuk ngaji. Biasanya guru ngaji surau mempercepat ngajinya karena guru ngaji tersebut juga masih muda dan ingin menikmati performa idolanya. Atau, pengurus keamanan pondok memperketat absensi. Para santri yang masih mondok dan nonton konser Slank dan ketahuan paling-paling juga cuma dihukum gundul. Keciiil.

Pertemuan dua kelompok masyarakat ini kebanyakan justru membuahkan proses akulturasi yang saling menguntungkan. Slanker menemukan jalan damai dalam mengurus kebutuhan ruhaniah mereka sementara warga NU, khususnya yang muda-muda, menemukan media mengekspresikan selera musik mereka yang kritis terhadap isu sosial dan melankolis tapi tetap dignified dalam urusan cinta. Halah.

Hal ini bisa terjadi berkat banyaknya kesamaan-kesamaan visi, misi dan cara pandang Slanker dan warga NU dalam banyak segi kehidupan. Pertama, Slanker dan warga NU sama-sama egaliter. Keduanya memandang sesama sama rata sama rasa. Slanker dan warga NU tak pernah memandang sebelah mata pada minoritas. Slank berdiri di atas semua golongan dan NU mengusung cara pandang dan praktik keberagamaan yang rahmatan lil 'alamin.

Slanker punya prinsip makan gak makan asal kumpul. Warga NU juga. Buktinya, banyak sekali kegiatan sosial warga NU yang bentuknya kumpul-kumpul. Sebut saja tahlilan, bancakan, manakiban, diba'an, barzanji, selametan, sholawatan, istighosah. Belum yang lainnya.

Slanker juga memegang teguh prinsip-prinsip tasamuh, tawazun, i'tidal dan tawassuth. Slanker itu manusia-manusia toleran, seimbang, tidak berat sebelah dan berada di tengah-tengah. Sementara warga NU sangat cinta damai, tidak begitu mementingkan penampilan, jujur dan ada apanya, eh, apa adanya.

Dan jika akhir-akhir ini Slanker kehilangan arah dan kehabisan inspirasi, itu antara lain sebab Slank mengalami dekadensi dan kemerosotan kualitas musik serta keterdesakan situasi politik yang pada akhirnya mengantarkan Slank pada pengambilan keputusan politis yang mengingkari prinsipnya sendiri yang jelas menyatakan bahwa Slank tidak berpolitik.

Maka, agar Slank tetap Slank dan Slanker tetap mengidolakan pilihan musiknya, sebaiknya Slank segera kembali ke khittah.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search