Kamis, 07 September 2017

Epistemologi Pacaran dan Hukum Mempraktikkannya dari Sudut Pandang Islam dan Demokrasi

Pacaran dalam bahasa Indonesia berasal dari kata pacar yang mendapat imbuh akhiran an. Maka jadi pacaran. Pacar sendiri memiliki ambiguitas makna. Pacar bisa merupakan nama pohon yang berbuah bulat kecil-kecil bergerombol berwarna oranye yang oleh anak-anak kecil di sekitar rumah, juga oleh anak saya sendiri, ditumbuk dan dijadikan cat kuku.


Pacar juga memiliki makna rekanan kita dalam berpacaran. Yang hendak saya bahas adalah pacaran dalam maknanya yang kedua ini. Pacaran adalah salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang tak mampu dicakup pengertiannya dalam kalimat yang singkat dan padat. Tidak pernah ada definisi baku atas pengertian pacaran dan tidak pernah ada konsensus umum tentang juklak-juknis pacaran. Tapi paling tidak kita bisa mengatakan bahwa pacaran dimulai dengan akad nembak dan diterimanya akad tersebut oleh pihak yang ditembak dan diakhiri dengan pernikahan atau udahan.


Pacaran pertama-tama harus kita pandang sebagai organisme yang hidup. Sangat lentur. Dan mencakup ke dalamnya banyak rupa kegiatan sepasang manusia. Dengan demikian kita bisa lebih arif dalam menjatuhkan hukum atas pacaran. Mari kita urai perlahan.


Pacaran, asal sudah jadian, bisa berupa sekadar kegiatan saling sapa dan tukar kabar. Lempar-lemparan carik kertas dan seminggu sekali ngopi di teras rumah pacar. Kedua tangan si cowok juga hanya sibuk pegang udud dan cangkir kopi. Pacaran dalam bentuknya yang eksrim juga bisa berupa banyak sekali adegan wajib sensor. Dan yang dulu dianggap ekstem kini sudah dipandang hal yang wajar. Ini patut kita sesali. Kenapa nggak dari dulu. Eh.


Pacaran pada dasarnya adalah bid'ah. Jaman Nabi tidak ada. Dan bid'ah ada yang ndolalah ada yang hasanah. Ada yang sesat ada yang tepat. Termasuk kategori bid'ah yang manakah pacaran? Pro dan kontra dan polemik dan perdebatan panjang terjadi atas pembahasan problematika ini. Tapi jumhurul ulama, khususnya yang jomblo, berpendapat bahwa pacaran termasuk sesuatu yang bisa menjerumuskan manusia pada lubang kenikmatan eh lubang kemaksiatan.


Itu pacaran bila kita pandang dari kacamata keagamaan.


Pacaran juga menodai rasa nasionalisme para jomblo karena melanggar prinsip kesetaraan. Pacaran melanggar Pancasila sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jomblo kan juga warga negara sah bangsa Indonesia.


Kita ini terjebak dalam penjungkirbalikan nilai-nilai sosial oleh agen Kapitalis produsen soklat Valentin, balon berbentuk hati, kondom warna-warni. Kampanye besar-besaran mereka lakukan demi memperlihatkan bahwa pacaran itu indah, manusiawi, natural, dari sononya, taken for granted, suci, agung, preeet. Mereka yang pacaran digambarkan sebagai sosok-sosok ideal dan laku sementara para jomblo dicap pribadi kuper, ndeso, dan kagak laku. Secara konseptual pacaran tidak memiliki dasar pembenaran yang kuat dan dalam ranah praktik, pacaran itu melelahkan, bikin ngos-ngosan.


Anda sedang pacaran? Segera hentikan, semoga Anda dirahmati Allah.

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search