Kamis, 24 Agustus 2017

Kang Pariman

Kang Pariman
Di sebuah pesantren kecil di pelosok desa, ada santri namanya kang Pariman. Oleh orangtuanya, dia dititipkan kepada pak Kiai untuk bisa nderek ndalem. Kang Pariman santri yang rajin.

Rajin bikin jengkel kiainya.

Tapi, namanya juga Kiai,  meski jengkel, ia mikir-mikir juga untuk mengumbar kejengkelannya di muka khalayak. Kan Ndak pantes.

Kang Pariman santri yang mandiri. Mandiri dalam segala hal. Terutama dalam berpikir. Kang Pariman santri independen.

Cara dan alur pikirnya absolut. Mboh.

Di pesantren kecil itu ada piket bersih-bersih halaman dan menyiram tanaman setiap pagi dan sore. Suatu pagi yang mendung, saat kang Pariman mendapatkan jatah piket, ia hanya bersih-bersih halaman tanpa menyiram tanaman.
Saat pak Kiai tahu tanaman belum disiram, ia memanggil kang Pariman dan bertanya, “Kang, apa tanaman sudah kausiram?”

“Pak Kiai pasti tahu kalau tanaman belum saya siram. Kalau sudah saya siram, pak Kiai nggak mungkin tanya,” jawab kang Pariman mengandalkan logikanya.

“Jadi, benar belum kausiram?” tanya pak Kiai lagi dengan sabar.

“Ya belum,” jawab kang Pariman datar.

“Kenapa?”

“Percuma.”

“Kenapa percuma?”

“Karena sebentar lagi hujan.”

*
Pak Kiai ngedumel. Tapi mencoba sabar. Lalu berkata, separo melampiaskan dongkol, “Pariman, jangan memastikan apa yang belum terjadi. Jangan mendahului kehendak Allah. Maka, tambahkanlah kata insyaAllah.”

Pariman: “InsyaAllah sebentar lagi hujan.”

Batin pak Kiai: “Santri mbeling!”

*

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search